//
you're reading...
Lain-lain

Hempasan Rindu – Semarang 2020

Kamu pernah ditimpa rasa merindu bertahun-tahun? Ya, Aku pun demikian. Tapi hari ini akan kuhempaskan semuanya. Pukul 06.00 Wib. Aku mulai perjalanan ini seorang diri, penuh rindu haru. Tak terbayang, niat yang sudah hampir 8 tahun tertunda. Dan hari ini, jumat (02/20) kumulai perjalanan menuju Kampung halaman, SEMARANG.

semarang (1)

Kampung Halaman

Niat penuhku ingin sowan ke Mbah Kakung. Semoga Allah meridhoi perjalanan ini. Karena setelah kepergian almarhum bapak, yang kuinginkan salah satunya bisa lebih dekat dengan Mbah.

Aku nikmati perjalanan ini dengan mengendarai transportasi darat. Ojol menjadi pilihan untuk bisa sampai ke Stasiun Pasar Senen-Jakarta. Perjalanan melintasi kota Jakarta selalu unik. Melihat segala sisi kehidupan manusia, membuat hati pikiran kita jadi terbuka.

Sampai di stasiun tepat pukul 08.00 Wib. Ada waktu 20 menit untuk bernostalgia di sana. Nuansa lorong ujung barat sampai timur stasiun kurasakan. Ya, kedatangan dan kepergian merupakan keniscayaan. Aku mulai rindu perjalanan 10 tahun lalu. Jakarta-Jogja. Yang membuatku terbiasa dengan perjalanan seperti ini.

Aku duduk berhadapan dengan seorang ibu dan satu anaknya. Jelas, aku perlu membantu barang bawaannya ke tempat yang aman sebelum kereta berangkat. Aku pun mulai menyapanya. “Ibu nanti turun dimana?” Tanyaku hangat. “Saya turun di Lamongan-pasar Turi. Kalo Masnya dimana?”. Tanya ibu. “Saya di Semarang-Tawang, Bu.” Kamipun larut dalam percakapan.

Sesekali kulihat pemandangan dibalik jendela. Gesekan roda baja dengan rel kereta menjadi pengirama nostalgiaku dengan kampung halaman. Kusadari hidupku kini sudah diseparuh jalan. Semoga ada kesempatan untuk bertenang.

Tepat pukul 15.07 Wib. Keretaku tiba di Stasiun Semarang-Tawang. Kupijakkan kaki ini setengah tak percaya bisa sampai di sini. Terakhir kali ke tempat ini saat ku SD, jadi lebih terasa excited. Tempat yang kucari setelah sampai di stasiun adalah mushola. Karena harus mengganti shalat fardhu yang telah kulewati. Selesai shalat, kulanjutkan untuk memilih alat transportasi taksi online. Aku ingin banyak mendengar cerita kota ini lebih intim, sambil menikmati perjalanan menuju kampung halaman. Yap, Aku pilih duduk di kursi belakang.

Namanya Pak Yahya, beliau supir taksi online yang kutumpangi. Saat ditanya asli orang mana, beliau menjawab asli Jogja. Wah, klop sekali. Kebetulan Aku pernah tinggal di Jogja. Jadi bisa menggali informasi 2 kota sekaligus yang telah lama kutinggalkan.

Beliau tinggal di kota ini bersama istri dan anak-anaknya. Ternyata beliau ini seorang desainer grafis. Siang untuk aktivitas diluar, malam untuk nge-desain. Lucunya, saat kami dipertengahan jalan, anaknya yang sedang sekolah di SMP menelepon untuk minta dijemput. Karena bapaknya juga sedang supirin penumpang, akhirnya anaknya disuruh untuk order kendaraan online juga.

Pengalaman hidupnya luar biasa, pahit manis beliau sudah rasakan. Beliau mulai ceritakan bagaimana susana Kota Jogja tempo doeloe dan hari ini. Cerita tentang kesultanannya, kebijakannya, bagaimana rakyatnya, wisatanya, keelokannya, sampai peristiwa-peristiwa mencekam yang beliau alami hingga orangtuanya memilih untuknya tinggal di kota Semarang.

Nadanya mulai lirih, beliau seperti agak sedih sedikit kecewa melihat bagaimana perubahan kampung halamannya kini. Aku harus menghibur beliau dengan apa yang telah kurasa selama tinggal di Kota Perindu itu.

Kuceritakan mulai dari bagaimana Aku memilih kota Jogja sebagai tempat melanjutkan hidup. Keramahan, kedamaian, keindahan, kebersamaan hingga pengabdian warganya kepada leluhurnya. Belum selesai bercerita, Pak Yahya menimpali, “Wah..! Mas, Aku sampai merinding dengarnya.” Ucap beliau sambil menunjukkan bulu kuduk lengan kirinya. Ya.. semoga bisa mengobati rasa rindu bapak juga dengan kampung halaman.

Pak Yahya menanyakan kenapa aku ke Semarang. “Ingin bertemu Mbah Kakung”, jawabku mantap. Datang ke Semarang bertemu dengan Mbah, akan membawaku keharibaan almarhum Bapak. Aku senang dengan kota ini. Beliaupun bercerita perjalanan hidupnya di kota Semarang. Kali ini aku ingin jadi pendengar setia saja sambil melihat kanan-kiri keelokan suasana Kota Semarang.

Tak ada hujan, tak ada badai, tiba-tiba saja beliau memotong ceritanya dengan pertanyaan yang menohok. “Oh ya, Masnya sudah menikah?” Seperti ada kilat dibalik kaca mobil, padahal tidak. Kilatnya pindah ke hati. Lamunanku buyar plus ambyar. ” Hmm.. Belum pak.” Jawabku setenang mungkin. “Oh ya, semoga cepat ketemu jodohnya ya, Mas..” Akupun mengaminkan sambil sedikit mengangguk.

Setelah pertanyaan itu suasana jadi hening. Kulihat dari balik wajahnya seperti tak sabar ingin berbagi pengalaman soal jodoh. Dan benar saja, beliau melanjutkan kisahnya. “Mas tidak usah khawatir, dulu saya juga sama dengan Masnya. Disamping ada usaha, saya tekadkan selalu bangun malam untuk memohon pilihan yang tepat. Dan benar saja, jodoh itu datang diwaktu yang tepat.” Ucap beliau tenang.

Mendengar ucapannya, ubun-ubunku seperti kejatuhan tetesan embun. Petuah seperti itu yang kutunggu, datang darimana saja dan kapan saja. Aku senang sekali, belum ketemu Mbah, tapi sudah dapat wejangan darimana-mana.

Mobilku mulai masuk halaman rumah, Kulihat Mbah sudah menanti kedatangku di teras depan ditemani anak lelakinya yaitu Lek Zaka. Kupandangi wajahnya, kucium tangannya dan kami berpelukan. Hamdan wa Syukron Lillah, rinduku terbalas hari ini.

semarang (2)

Kampung Halaman

Dengan Bahasa tubuhnya, Mbah menyuruh masuk ke dalam rumah. Hmm… suasana rumah di kampung membuat ingatanku kembali ke masa 15-20 tahun silam. Oh ya, Lek Zaka ini umurnya selisih beberapa tahun denganku. Beliau keluaran Lirboyo. Sudah beberapa tahun ini Lek Zaka yang menemani Mbah di rumah. Akupun baru mengenalnya. Dan beliau yang menemaniku selama tinggal beberapa hari di sana.

Belum seharian di rumah Mbah, namun beliau sudah membuat hati ini terenyuh. Saat Mbah menyilakan duduk di kursi bersamanya, Aku memilih duduk lesehan dihadapannya. Beberapa kali beliau minta duduk di atas bersama, aku izin untuk tetap kukuh tidak sejajar dengan beliau. Dan yang terjadi beliau malah turun dari kursinya untuk duduk lesehan bersama. Seketika Aku pun meraih tangannya agar beliau tetep duduk di kursinya. Namun sekarang berbalik, Mbah yang tidak mau duduk di kursi. Sambil menahan air mata, dalam hati kuterus berdoa, “Ya Allah… Muliakan Mbah di dunia maupun akhirat.” Berasa makin banyak dosa, jika Mbah yang jelas terlihat ke wara’annya malah duduk lesehan denganku yang hina. “Rabbighfirlii…”

Pertemuan saat itu kami awali dengan cerita-cerita ringan. Ternyata beberapa bulan lalu, rumah Mbah sempat terkena banjir akibat jebolnya waduk yang berada di ujung Desa. Untungnya Mushola yang ada didepan rumah Mbah tanahnya lebih tinggi. Jadi beliau bisa mengungsi di sana. Dan Lek Zaka-lah yang siap siaga menemani Mbah. Lek Zaka pernah mondok di Lirboyo, kebetulan sekali Aku ingin tahu bagaimana aktifitas santri di Ponpes Lirboyo, karena Lirboyo termasuk pondok yang kukagumi. Tentang sistem mengajinya, kedisiplinannya, keunggulannya dan satu lagi Pencak Dor Lirboyo. Alhamdulillah, tambah kenalan tambah wawasan.

Karena beberapa hari saja tinggal di sana, jadi Aku tidak banyak pergi keluar rumah, karena memang niatnya ingin menghabiskan waktu bersama Mbah. Hanya sesekali saja keluar itupun main ke rumah Bulek yang rumahnya hanya berjarak ± 1 km saja. Kami sholat berjamaah, mengaji, bercengkrama hingga makan dilakukan bersama. Jika menjelang tengah malam, Aku dan Lek Zaka berbagi cerita pengalaman selama hidup di Pondok.

Sinar Sang Fajar mulai memancar kedalam celah-celah jendela rumah. Udara pagi di Kampung Halaman selalu memesona. Hari ini, Minggu (02/20) menjadi hari terakhirku di rumah Mbah. Kuawali pagi ini dengan ziarah ke makam Mbah Putri ditemani Lek Zaka dengan mengendarai motor kesayangannya menelusuri jalan mulus hingga berbatu.

semarang (3)

Kampung Halaman

Alhamdulillah, bisa berziarah ke Mbah Putri. Teringat wajahnya yang damai, santun nan ayu. Terakhir ketemu saat masih sekolah MTs. Meskipun beliau tidak bisa berbahasa Indonesia, namun beliau tidak pernah meninggalkan senyum saat kami berkomunikasi. Hidupnya bersahaja. Beliau abdikan dirinya untuk kepentingan dakwahnya Mbah Kakung. Kehidupannya percis dengan Almarhumah Nenekku yang ada di Tangsel, sama-sama melayani suaminya berdakwah.

Doa nan tulus Aku panjatkan untuk mereka yang telah berpulang. Lek Zaka pun menjelaskan selain makam Mbah Putri, ada beberapa sanak saudara yang juga di makamkan disana. Mulai dari Uyut, kakaknya Uyut, Mbah Putri, Anaknya siMbah Putri hingga sanak saudaranya. Makam-makan di sana tidak diberi nama. Hanya batu biasa saja sebagai tandanya, jadi agak sulit mencari makam yang kita cari jika datang kembali.

Keretaku berangkat pukul 20.15 Wib, itu bukan waktu yang lama. Kembali Aku menghabiskan waktu berdua dengan Mbah. Beliau mulai menceritakan bagaimana keadaan masa kecilnya saat ditawan pasukan jepang. Setiap sang Fajar datang para penduduk sekitar dipaksa untuk menyembahnya. Dengan ditodong senapan yang siap menembak bagi siapa saja yang membangkang.

semarang (7)

Kampung Halaman

Mbah juga menjelaskan alasan kenapa anak-anaknya diperbolehkan pergi merantau meninggalkan dirinya dan istrinya, termasuk Alm. Bapak. “Jika mau berjuang dan tidak meninggalkan ibadah, akan Aku izinkan mereka merantau.” Ungkap Mbah tegas. Beliau juga menceritakan bagaimana Alm. Bapak merantau ke Maluku. Selang beberapa tahun selesai belajar di Ponpes Futuhiyyah Mranggen. Saat itu ada program pemerintah untuk pengiriman Da’i ke berbagai daerah di Indonesia. Dan Alm. Bapak ikut menjadi salah satu di antara Da’i yang disiapkan.

Mbah pun melanjutkan kisahnya. “Nak, bapakmu itu termasuk yang “gila” dibanding anak-anakku yang lain. Bapakmu dulu cerita ke Aku, suatu hari di kapal sedang dalam perjalanan menuju Maluku. Saat itu hari Jum’at. Tentu pelaksanaan sholat jum’at tetap berjalan seperti biasa. Tiba-tiba salah satu awak kapal bertanya kepada para penumpang. “Para penumpang sekalian, siapa di antara kalian yang bisa khutbah untuk pelaksaan sholat jum’at kita ?” Tanpa ragu Bapakmu mengacungkan tangan dan menyatakan siap untuk memberi khutbah.

Lanjutnya, “Ditengah laut, bapakmu memberi ceramah kepada banyak penumpang. Tanpa teks, tanpa persiapan, bapakmu dengan lantang berkhutbah. Setelah selesai shalat, banyak orang yang menyalaminya. Begitu salut dengan keberaniannya.” Usai siMbah mengakhiri cerita, tak terasa Aku menahan nafas panjang hingga cerita berakhir, Aku baru mengeluarkan nafas. Dalam hati Aku mengiyakan kata-kata Mbah, “ya memang Bapakku “gila”, darimana beliau punya mental baja sebesar itu”.

Sekitar 3 tahun Alm. Bapak mengabdikan dirinya untuk agama di Maluku. Tepatnya di Pesantren Darul Muhsinin, Sanana, Maluku Utara dari tahun 1987 s.d tahun 1990. Sayangnya, tak banyak cerita yang kudapat dari Alm. Bapak. Aku bersyukur, mendapat cerita ini dari Mbah. Pilunya adalah ketika Alm. Bapak tidak mendapatkan insentif dari pemerintah yang seharusnya diberikan. Tapi itu tak menjadi penghalang semangat Alm. Bapak untuk berdakwah. Karena beliau selalu ingat petuah-petuah Mbah. Aku pun berhasrat, suatu saat ingin mengunjungi pondok tersebut untuk mencari jejak peninggalan perjalanan hidup Alm. Bapak disana. Semoga ada kesempatan.

Aku tidak banyak mendahului pembicaraan, karena tanpa itupun Mbah tahu betul alasan kenapa Aku mendatanginya jauh-jauh ke Semarang. Kusampaikan kegelisahan pribadiku saat itu. Keadaan mulai hening, Mbah tiba-tiba beranjak dari kursinya menuju kamar seperti mengambil beberapa helai kertas. Dan Akupun siap mendengar dan mencatat baik-baik apa yang Mbah berikan. Aku bersyukur masih ada Mbah, masih bisa mendengarkan petuahnya secara langsung. Seperti ada energi kedamaian yang masuk dalam diri.

Secara dzohir, Mbah tak jauh beda dari apa yang Aku lihat puluhan tahun silam. Kata-katanya masih fasih, penglihatan & pendengarannya tajam, saat berceritapun ingatannya masih kuat, runtut, tulisan arabnya indah, masih mengimami sholat jamaah dan satu lagi yang saya kagumi, bahasa Indonesia bagus. Hanya sekarang ini fisiknya sedikit melemah.

Hari semakin siang, kami pun melakukan makan bersama. Sebenarnya Aku agak sedih setiap kali makan bersama Mbah. Karena dengan kedatanganku, beliau rela menggugurkan puasanya yang biasa dilakukan tiap hari. Aku merasa tidak enak hati, tapi Mbah memilih untuk tidak puasa dulu agar bisa menemaniku makan bersama.

Hatiku makin terenyuh saat Mbah memberikan lauk Iwaknya ke piringku. Belum sampai ke piringku, Aku sigap untuk tidak mengambilnya, sambil memberikan isyarat agar lauk Iwak itu untuk Mbah saja. Lagi-lagi Mbah ingin Aku mengambilnya sedikit memaksa. Ya Allah… semoga ini bukan menjadi sabab Aku durhaka, tapi berkahnya lauk Iwak yang diberikan Mbah. “Ya Allah… muliakanlah Mbah di dunia maupun akhirat.” Lirihku dalam hati.

Sebelum pamit, Aku sempatkan pergi ke pasar membeli beberapa buah segar dan minuman untuk kebutuhan Mbah dan Lek Zaka di rumah. Mengendarai motor milik Lek Zaka bikin ketagihan, entah apa jenisnya yang jelas Aku baru itu mengendarai motor khasnya. Inginnya naik sepeda onthel milik Mbah, tapi ternyata sudah tidak ada.

semarang (4)

Kampung Halaman

Akhirnya Aku benar-benar pamit kepada Mbah. Kucium kembali tangannya dan memeluknya. Tak lupa “pesan” Ibuku untuk Mbah kuberikan dan juga untuk yang lainnya. Meski perpisahan selalu berakhir sedih, tapi hatiku damai. Rinduku terbalaskan. Terima kasih kepada keluarga disana yang sudah menyempatkan waktunya untuk bersua. Semoga selalu ada kesempatan untuk berbagi cerita-cerita manis yang romantis.

Lek Zaka yang mengantarku hingga bertemu Ojol, lalu kemudian berlanjut menuju Stasiun Tawang – Semarang. Keretaku akan berangkat pukul 20.13 Wib. Petugas KA mulai meniupkan peluitnya, perlahan roda kereta mulai bergerak seirama. Dari balik jendela kereta, Aku tak henti-hentinya ucapkan syukur. “Hamdan wa syukron Lillah. Mbah, Kulo izin pamit, salam takzim dari cucumu yang hina ini”. ucapku lirih dalam hati.

St. Tawang, Februari 2020

semarang (8)

Kampung Halaman

semarang (5)

Bersama Mbah Kakung

About Zaronja

Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya-hakikat manusia *Gie

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Ocean Park, BSD Tangerang

a Trip to Pindul Cave & Oyo River

Air Terjun Sri Gethuk, Yogyakarta

Air Terjun Grojogan Sewu, Solo

Pantai Parangtritis Yogyakarta

Kebun Buah Mangunan Imogiri

Jembatan Gantung Imogiri

My Documentary Video

%d blogger menyukai ini: