//
Profil Ane

Zaronja Ahmad

Zaronja Ahmad, seorang insan yang terlahir dari keluarga seperti halnya dengan keluarga-keluarga wilayah Pondok Aren lainnya, yaa biasa-biasa saja. Malam Sabtu, tepatnya pada tanggal 29 Juni 1991 saya dilahirkan. Sebagai anak pertama dari orang tua yang berbeda budaya, Bapak dari etnis jawa, sedangkan Ibu dari etnis Betawi asli. “Bejo” Betawi-jowo, istilah inilah yang biasa saya sebutkan ketika saya ditanya oleh orang lain menyenai hidup saya. Dan kombinasi etnis ini membuat saya bertransformasi pada prilaku sosial-budaya saya.

Abang n Mpok Panti

Berawal dari masa balita, saya lebih banyak bermain di halaman rumah bersama Abang/Mpok Panti – bermain gundu, layangan, sepak bola dan belajar sepeda – hampir semua aktifitas, saya habiskan dengan bermain bersama mereka. Sampai aktifitas mandipun saya pernah beberapa kali dimandikan oleh Mpok-mpok panti dikamar mandi asrama santriwati (kalau diingat-ingat, betapa horornya saya pada waktu itu, hhe). Karena memang saya tinggal dilingkungan Yayasan Panti Asuhan Pondok Pesantren. Jadi tidak heran jika saya lebih banyak ditemani bermain bersama anak-anak panti yang biasa saya sapa akrab dengan sebutan Abang/Mpok Panti. Karena pada saat itu, Bapak dan Ibu sibuk mengajar disebuah sekolah yang tidah jauh dari rumah. Akan tetapi, terkadang saya juga ikut dibawa ibu pergi ke sekolah. ketika ibu masuk ke ruang kelas biasanya ibu juga membawa saya, kemudian menaruh saya di kursi Guru. Saya suka tertawa sendiri kalau mengingat-ingat moment itu, betapa hebatnya saya bisa duduk dikursi para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Seorang anak kecil yg berumur 3-4 tahun duduk didepan puluhan anak yang lebih dewasa sedang menuntut ilmu. Yaa Salaaam..Entah pesan apa yang ingin ibu sampaikan dengan membawa saya kedalam kelas. Pastinya, saya yakin bahwa seorang ibu akan selalu memberikan perlindungan dan kasih sayangnya yang terbaik untuk sang anak. Terima kasih ibu.

Bunderan BintaroBegitu pula bapak, beliau selalu menyempatkan waktunya untuk mengajak kami jalan-jalan, yaa walaupun hanya seminggu sekali. Biasanya bapak mengajak kami jalan-jalan ke Taman Kota “Bunderan Bintaro”, Kebun di perigi, dan terkadang ke Bintaro Plaza. Dan saya sangat menikmati sekali masa-masa kecil saya. terima kasih bapak.

Begitu pula bapak, beliau selalu menyempatkan waktunya untuk mengajak kami jalan-jalan, yaa walaupun hanya seminggu sekali. Biasanya bapak mengajak kami jalan-jalan ke Taman Kota “Bunderan Bintaro”, Kebun di perigi, dan terkadang ke Bintaro Plaza. Dan saya sangat menikmati sekali masa-masa kecil saya. terima kasih bapak.

Beranjak dari masa balita, mulailah saya masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak. Belajar dan bermain bersama guru dan teman-teman membuat dunia baru saya ini menjadi lebih berwarna. Terimakasih guru dan teman-teman semua.

SDN larangan selatan 02-Zaronja

Masuk pada tingkat Sekolah Dasar, Bapak menyekolahkan saya di SDN Larangan Selatan 02 yang bersebrangan dengan kampung saya. Jaraknya pun cukup jauh bagi anak-anak seukuran saya pada waktu itu. Karena memang untuk menuju ke SD tersebut, kita harus melewati sebuah rawa yang cukup luas dan juga beraromakan mistik. Ketika saya berkenalan dengan teman-teman sekelas, ternyata yang asalnya dari kampung lain hanya 2 orang, saya dan teman saya yang bernama Lena. Padahal dilingkungan yayasan panti asuhan pondok pesantren dekat rumah saya sendiri, terdapat juga sekolahan.

Teringat lekat sekali suka-duka saya saat berangkat dan pulang sekolah, khususnya pada musim penghujan. tepatnya pada saya kelas 2 SD, dalam perjalanan pulang kerumah. Saat itu hujan lebat sekali, dan saya pulang dengan berjalan kaki – Karena memang pada saat itu saya belum punya sepeda – dengan membawa payung yang sudah Ibu siapkan sebelum saya berangkat ke sekolah. Melewati pinggiran rawa yang terlihat mistis –dikatakan mistis karena memang banyak cerita kejadiankejadian aneh yang terjadi disekitar rawa tersebutmembuat saya terlihat gugup, ditambah dengan sambaran gledek dimana-mana dan angin yang cukup kencang membuat saya semakin gemetar. Saya pun sesekali harus memegang erat-erat payung yang saya bawa agar tidak lepas dari genggaman saya. Sesampainya dirumah, ibu menyambut saya dengan wajah yang masih terlihat cemas. Ibu sangat mengkhawatirkan saya. dan akhirnya, kegemeteran saya pun terbayar sudah dengan pelukan hangat ibu. Terima kasih ibu.

Akan tetapi inilah saya, entah kenapa saya lebih tertarik berjuang menuntut ilmu di kampung orang lain dibandingkan di kampung sendiri. Walaupun terkadang halangan dan rintangan kian datang silih berganti, saya harus tetap konsen pada pilihan yang sudah saya ambil. Dan baru saya sadari ketika saya menulis catatan kecil ini, saya tengah berada di daerah Sleman-Yogyakarta. Ternyata sifat ke”bolangan” saya sudah saya miliki saat saya duduk dibangku Sekolah Dasar. Yang lebih saya herankan adalah Beliau, bapak saya yang terlihat demokratis-liberalis terhadap apapun pilihan saya yang saya inginkan, termasuk pilihan saya untuk kuliah di Yogyakarta. Terimakasih bapak.

Hmm…kaga terasa udah jam 2 malem nih, udah dulu yee,,
besok di lanjut lagi. Met malem n smoga hr esok lebih bae dari hari ini..amien.
Lanjut…!

Masih cerita saat saya duduk di bangku kelas 2 SD. waktu itu saya ingin sekali punya mainan mobil Remote Control. Seperti halnya teman-teman sebaya saya lainnya. Saat itu pula saya memberanikan diri untuk meminta langsung kepada bapak yang sedang asyik membaca buku diruangnya. “pak, beliin abda mobil-mobilan remote Control donk kaya temen-temen abda..!.( abda merupakan panggilan nama saya pada waktu kecil dulu )”. Dengan nada sedikit kikuk penuh pengharapan. Bapak pun tiba-tiba diam sejenak, suasana hening membuat saya cemas dengan jawaban yang akan bapak katakan. Beliau memandang saya dalam-dalam, kemudian bapak berkata dengan tenang,…“bapak bakalan ngabulin permintaan abda, kalau abda bisa masuk ranking 3 besar di akhir caturwulan nanti…“- pada saat itu masih jamannya caturwulan, bukan semestersambungnya lagi .”itupun kalau abda bisa masuk 3 besar, tapi kalau nggak, ya bapak ga ngasih apa-apa ke abda…” . “huuft..! Alhamdulillah yah. Masih ada harapan untuk mendapatkan mobil remote control, yaa walaupun agak berat juga perjuangannya..” celoteh saya dalam hati sambil cengar-cengir di hadapan bapak.

Setelah perkataan bapak tersebut, entah kenapa saya semakin termotivasi sekali untuk mendapatkan mobil remote control itu. Belajar, belajar dan belajar yang hanya saya kerjakan. ujian Catuwulan III pun dimulai, saat itu saya benar-benar bersemangat untuk mengerjakan soal-soal ujian. Doa dan usaha pun sudah saya lakukan, bahkan setiap ingin mengisi soal dari soal pertama pindah ke soal berikutnya saya selalu mengucapkan bismillah. Begitupun hari-hari berikutnya.

Singkat cerita, hari pengambilan rapot telah tiba. Para murid yang didampingi wali-walinya sudah berkumpul didalam kelas. Ketika nomor urut absen 6 dipanggil oleh wali kelas saya, tiba-tiba refleks saja jantung saya berdetak dengan cepatnya. Cemas, gundah, deg-degan, dan bingung ngumpul dalam satu mangkok. Hanya Doa kepasrahan hati yang bisa saya lakukan pada saat itu. Bapak dan saya pun maju ke depan kelas kemudian duduk di depan meja guru.

Setelah berbasa-basi singkat, masuklah pada pembicaraan inti. Dengan nada sedikit perlahan, sang guru pun berkata..” pak, di kelas 2 ini anak bapak mengalami peningkatan prestasi belajar yang cukup signifikan. Selamat ya pak, anak bapak mendapatkan ranking 2 pada caturwulan ini.”

“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah..” ucap saya dalam hati dengan penuh rasa syukur. Refleks saja saya langsung memandang wajah bapak. Dan mata kita bertemu, senyum kita pun turut bertemu pula. Tapi setelah saya memandang agak lama, entah kenapa wajah bapak seperti berubah menjadi mobil remote control yang saya dambakan. Dalam lamunan, saya pun bekata dalam hati..“I’am Coming mobil remote control” hehe… Akhirnya, sehari kemudian bapak mengajak saya ke Bintaro Plaza untuk membeli mainan saya.

si kecil mengaji

Baru saya sadari, seperti itulah pendidikan karakter yang bapak saya terapkan dalam mendidik anak-anaknya sedari kecil. Untuk mendapatkan segala sesuatunya, kita harus berusaha, berjuang, rela berkorban, mandiri, dan pantang menyerah. Seperti yang pernah bapak bilang kepada saya “tidak ada kenikmatan kecuali setelah kepayahan”. Tidak hanya itu, diawal kelas 2 SD pun saya sudah menghatamkan mengaji iqra’ yang langsung di bimbing oleh bapak saya sendiri. Betapa bahagianya saya saat itu, terlebih bapak saya. beliau langsung memeluk-mencium kening saya dan mendoakan saya. entah doa apa yang beliau panjatkan, saya hanya mengamininya saja.

Sekilas Info terkait Sekolah SD saya, lihat disni.

(http://tangerangrayanews.com/detail.php?news=746&title=SDN%20Larangan%20Selatan%202%20Terus%20Raih%20Kepercayaan%20Masyarakat&cat=21 )

Lepas dari tingkat SD, saya pindah ke tingkat MTS. Begitu cepat rasanya sudah berpisah dengan teman-teman SD saya. Selanjutnya kami memilih jalan kami masing-masing untuk melanjutkan sekolah. Ketika saya tanya mereka, ternyata hampir semua teman-teman saya memilih melanjutkan sekolah di SMPN 11 Tangerang. Dalam hati saya berkata “wah, asyik yaa bisa ngumpul lagi kaya dulu…”. Berbeda dengan saya yang memilih melanjutkan sekolah di MTS, di pondok pesantren lagi..!. Tapi inilah pilihan saya. Selain karena kedua orang tua, kakek-nenek, dan saudara-saudara saya backgroundnya dari kaum santri, saya melihat tinggal di pesantren memiliki nilai lebih di bandingkan tinggal dirumah.

Darunnajah Cipining Bogor

Pondok Pesantren Darunnajah Cipining-Bogor. Pondok inilah yang menjadi pesantren pilihan saya. saya dikenalkan pesantren ini dari om saya yang memang merupakan alumni pertama di pondok Darunnajah Cipining tersebut. Tanggal 28 juni 2003, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bumi PP Darunnajah Cipining.

Kehidupan baru pun dimulai, dan ini merupakan masa-masa transisi saya tinggal di pondok. Hidup yang penuh dengan peraturan dan disiplin membuat saya harus lebih cepat menyesuaikan diri. Masih teringat dalam kenangan saya untuk pertama kalinya saya merasakan makan di pondok. Saat itu waktunya makan malam bersama teman-teman yang lain. sambil membawa piring ke dapur, kebetulan lauknya adalah sayur terong. Ketika saya melihat nasi dan sayur terong sudah di piring, entah kenapa dahi saya mengkerut, perut saya pun terasa sudah kenyang melihat lauknya seperti itu. Saya belum terbiasa makan hanya dengan sayur terong saja seperti itu. Anehnya, melihat santri lama begitu lahap sekali mereka. Bahkan ada yang minta nambah lagi sama si Mbok dapur. Saya pun berusaha untuk menghabiskan makanan tersebut. walaupun tinggal sedikit lagi, tapi tetap saja tidak bisa habis. Akhirnya terpaksa saya membuang sisa nasi tersebut. Namun belum seselai sampai disitu, dalam waktu yang bersamaan, datanglah secara tiba-tiba pengurus santri menghampiri saya. dan beliau memperingatkan saya agar tidak lagi membuang nasi.

Genesis 16 - DNC

Tak terasa 3 tahun sudah saya menghabiskan sebagian hidup saya di PonPes. Yaa Lumayan, banyak pahitnya ketimbang manisnya. Tapi seru juga, karena hal itu dirasa bareng-bareng sama temen-temen “Al-Muqtashida” (Nama angkatan saya). Apalagi di akhir-akhir kelas 3 Mts. Arti persahabatan sangat mendominasi sekali disana. Untuk menutup catatan akhir sekolah, kami memutuskan mengadakan Touring ke sejumlah lokasi wisata yang terdapat di bandung dan daerah sekitarnya. Hmm..Akhir kenangan yang cukup indah, teman.

Tidak berhenti disana, permasalahan pun timbul. Mau melanjutkan sekolah dimana ??? . Butuh waktu untuk menjawab pertanyaan ini. Karena bagi saya, sekolah yang kita pilih sangat mempengaruhi masa depan kita nanti. Orang tua saya pun menganjurkan saya untuk shalat istikharah. Alhamdulillah, setelah beberapa hari mendirikan shalat istikharah, petunjuk itupun datang lewat mimpi saya. Dan saya benar-benar yakin pada mimpi yang ke 3 saya, bahwa inilah yang Allah pilih untuk saya. saya bermimpi, saya tengah belajar di ruang kelas 1 MA Ponpes tercinta bersama teman-teman yang lain..hhe

Wanita Sholihah

Saya pun memilih untuk melanjutkan sekolah saya di Ponpes DNC kembali. Berawal dari kelas 1 MA, saya merasakan masa keterpurukan saya. bukan saja dari sisi religi saya yang menurun, prestasi belajar saya pun ikut menurun. Entah mengapa itu bisa terjadi, My self control saat itu bener-benar sulit terjaga. Hati kecil saya pun tidak bisa berdusta, bahwa ternyata salah satu penyebab keterpurukan diri ini adalah saya telah kehilangan salah seorang motivator/ penenang/penyejuk hati saya di pondok. Diam-diam saya mengagumi seorang “Wanita –Berbulu Domba-” hhe..(kaya di Film-film aje yee..). Cerdas, Cantik, Periang, Friendly, Rajin menabung, dan juga memiliki suara yang insyaallah cukup indah untuk di dengar, hehehe.. mungkin itulah yang membuat saya mengaguminya.

Diiringi Alunan musik gitar akustik “Ada Cinta” yang dimainkan Mas Bruno tepat di depan kamar saya, Membuat saya semakin terbawa feel-nya pada isi paragraf diatas. (lumayan ada sondtracknya dikit). Lanjut…!

Sudah lama sekali saya mengagumi wanita tersebut. Dan mungkin dia lah yang membuat saya bertahan untuk tetap tinggal di pondok saat itu. Kehadirannya membuat indeks prestasi saya dalam bidang formal maupun non formal di kancah DNC semakin baik. Itu terbukti saat saya kelas 1 s/d 3 Mts, saya selalu mendapatkan Ranking 3 besar dan beberapa medali pada event turnamen pencak silat antar konsulat. (lihat http://darunnajah-cipining.com/search/ahmad+abda+zaronja/)

Tak bisa dipungkiri, ternyata kehadiran seorang wanita memiliki nilai yang cukup berarti untuk memotivasi hidup saya saat itu. prinsip saya: “ selagi rasa itu bisa membuat saya semakin dekat dengan Allah dan menjadikan hidup saya lebih baik, kenapa tidak saya menjaga rasa itu kepadanya. Begitupun sebaliknya, jika rasa itu hanya membuat saya semakin jauh kepada Allah dan juga menjadikan hidup saya semakin tak menentu, kenapa tidak saya membuang jauh-jauh rasa itu kepadanya.”

Akan tetapi siapa yang menyangka, waktu berkata lain. Kita berpisah di akhir kelas 3 Mts. Orang tuanya memilih dia untuk pindah sekolah. berita itu saya dengar langsung ketika dia menelepon saya. Sejenak berkontemplasi mendengar berita itu. yaa..sedikit kecewa, tapi sudahlah. Semoga hanya berpisah sesaat. Akan tetapi sampai sekarangpun kita masih dipisahkan, hehehe… 😦 ( ketawa kok smileynya sedih..piyeh toh ??? )

Mungkin peristiwa inilah yang membuat saya mengalami masa-masa keterpurukan saat memulai kelas 1 MA. Dimana saya kehilangan salah seorang motivator saya yang saya kagumi. Indeks prestasi formal saya pun menurun. Begitu pula semangat saya untuk beraktifitas.

Lho, Mas Bruno yang tadi lagi maen gitar di depan kamar kemane yee..? ko udah kaga ada suaranya..
padahal mau request lagunya sheila on 7 “ketidakwarasan padaku”..hhe

Mencoba bangkit dari keterpurukan, di kelas 2 MA saya mulai menata hati dan self control kembali untuk mencari problem solving dari keterpurukan ini. Dan Alhamdulillah, semua terjawab dengan kehadiran wanita yang belum lama saya kenal. Wanita yang memiliki paras nan elok. Yang bisa membuat hati siapa saja bergetar memandangnya. (Ya salaaam, indah sekali ciptaanMu Ya Robb)…

Tapak Suci DNC

Saat itu saya bersahabat baik, dan sangat baik sekali dengannya. Dia mengembalikan semangat hidup saya untuk kembali berprestasi di kancah DNC dan sekitarnya. Betapa tidak, itu terbukti saat saya menjadi juara 1 Pildatren di Ponpes saya. (lihat http://darunnajah-cipining.com/pildatren-pemilihan-dai-pesantren/) dan juga ikut serta dalam penyeleksian atlet pencak silat Kab. Bogor dalam event (OOSN) Olimpiade Olahraga & Sains Nasional 2008 . (lihat WARDAN, No. 29 Vol. XIX, Juni 2008, hal. 23)

Tak terasa saya sampai dipenghujung akhir sekolah MA. Entah berawal dari mana, sedikit terjadi masalah emosional dengan wanita yang telah menjadi motivator saya ini. Mungkin saja ada orang yang jealous dengan kedekatan kami. Sampai-sampai cerita kami berakhir dengan Sad Ending…L. Atau mungkin saya terlalu mengaguminya. Sampai hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Dan baru saya ingat perkataan Sayyidina Ali dalam pelajaran Mahfudzot saya di Ponpes yang berbunyi “Cintailah kekasihmu itu sekedarnya saja, agar jika kamu membecinya pun sekedarnya saja”. Maksud saya menukil perkataan khalifah ke-4 ini bukan bearti saya membencinya, akan tetapi saya ambil hanya pernyataan yang pertamanya saja. Bahwa kita jangan sampai terlalu lama terbuai dalam keindahan semata. (Just little aje yee)…hhe J.

Genap sudah 6 tahun saya bermukim di DNC membuat hati dan fikiran saya terbuka dan sadar betul akan lika-liku perjalan hidup yang fana ini. Dari semua ini, saya tersadar bahwa faktor yang paling mempengaruhi dalam hidup kita adalah DIRI KITA SENDIRI. Apabila kita adalah orang yang bersemangat, seharusnya kita tidak butuh motivator. Karena motivator hanya “menina bobokan” kita dan memanjakan diri kita. Hati yang sudah manja akan sulit untuk dikembalikan ke selera asal.

Betul, Motivasi itu penting. Namun bukan berarti jika kita tidak dimotivasi kita akan menjadi orang yang malas untuk beraktifitas. Seharusnya walaupun kita tidak diberi motivasi kita harus tetap menjadi orang yang bersemangat. Bersemangat untuk memperbaiki diri sehingga Continous Improvement akan selalu mewarnai hidup kita. Statement ini juga bukan berarti kita tidak butuh motivator, layaknya obat sakit, jika kita tidak sakit kenapa kita perlu ke Dokter.

Jadi siapakah motivator kita sesungguhnya ? yaa..benar sekali, jawabannya adalah DIRI KITA SENDIRI. Tunjukkan bahwa kita orang yang bersemangat, mampu memberikan warna yang berbeda di lingkungan kita. Tetap semangat, gali potensi dan raih prestasi. Karena tugas kita sekarang adalah sakses semuda mungkin.*mengutip dari internet

Panggung Gembira Genesis 16

Di akhir perjalanan hidup saya di pondok. Kami (Al-Muqtashida) mengadakan acara Panggung Gembira di lapangan Ponpes. Acara ini biasa diselenggarakan oleh santri kelas akhir dalam rangka persembahan terakhir mereka untuk Ma’had tercinta. (Lihat http://darunnajah-cipining.com/panggung-niha%E2%80%99i-megaspektakuler-%E2%80%98unity-in-diversity%E2%80%99/).

Dan kami pun mengadakan acara kecil di bukit Binangkit yang berada tepat dibelakang Ma’had. Akan tetapi tidak semua teman-teman ikut berpartisipasi di acara ini, hanya 7 orang saja yang ikut naik saat itu. Dan saya menyebutnya para “Ashabul Kahfi”. Kami berangkat tepat pada jam 10 malam. Melewati sawah, pohon-pohon dan batu karang yang besar dan juga beberapa makam tua semakin memacu adrenalin kami.

binangkit mountain

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di atas bukit binangkit. Subhanallah, saat kami melihat cakrawala yang membentang luas, begitu indahnya suasana malam itu. bulan yang bersinar dihiasi taburan bintang-bintang membayar sudah rasa lelah dan penat kami. Sambil menikmati keagungan Tuhan, kami pun memuhasabahkan diri masing-masing. Saat pagi tiba, terlihat dari atas bukit binangkit Ma’had tercinta kami, yaa..walaupun hanya bangunan masjid dan jemuran saja yang nampak jelas. Akhirnya tepat jam 7 pagi, kami memutuskan untuk segera turun karena harus sudah sampai di Ma’had. And the last, ekspedisi kami pun berakhir disini. (Gambar Ini merupakan beberapa dokumen kami saat berada di bukit Binangkit).

Wisuda Akhir Tahun Genesis 16

Tibalah waktunya berpisah. “The Graduation Ceremony Of 16th Period” merupakan akhir dari segala acara yang kami ikuti di Ma’had. Yang mana pada hari itu menjadi hari yang sangat istimewa, karena sebentar lagi saya akan menjadi alumni DNC yang ke-16. Ditambah dengan hadirnya keluarga saya yang sudah 3 tahun tidak pernah menjenguk saya ke Ma’had membuat hati saya bahagia. Di satu sisi saya merasakan kesedihan yang mendalam karena akan meninggalkan Ma’had tercinta. Betapa tidak, 6 tahun lamanya berjuang bersama teman-teman 1 angkatan bukanlah waktu yang singkat. Suka-duka mewarnai segala kebersamaan kami. (Makan bareng, ke masjid bareng, ke sekolah bareng, ke kamar mandi bareng, olahraga bareng, di hukum bareng. Semuanya kami laukan bareng-bareng. Sampai aktivitas nino bobopun kami bareng. eits..! jangan salah paham, tidurnye di ranjangnya masing-masing broo..!) hhe…

Haflah Akhirusanah

Dari lubuk hati yang terdalam, saya ucapkan terima kasih untuk Pak Kyai dan juga guru-guru yang tidak pernah lelah membimbing saya dengan nasehat-nasehatnya yang sungguh berarti untuk bekal hidup saya kedepan. Maafkan saya, kalau sampai hari ini pun saya masih belum bisa membalas segala jasa-jasamu, guru. Menjaga nama baik almamater dan mendoakan kalian merupakan usaha yang bisa saya lakukan untuk saat ini. Dan hanya keberkahan ilmulah yang saya harap dari Antum semua. Terimakasih Guru, semoga Allah membalas segala jasa-jasamu. Amien.

Berpisah dengan Ma’had tercinta tidak membuat saya dan teman-teman Miss communication. Sebagian dari kami tetap memilih kuliah bersama-sama dalam 1 kampus. saat itu kami memilih UIN Syarief Hidayatullah Jakarta sebagai kampus pilihan kami. Selain lokasinya yang strategis, sebagian besar para mahasiswa UIN Jakarta yang notabenenya adalah kaum santri. (Jadi ngambung banget tuh kalau udah ngobrol bareng). hehehe..!

Tes masuk Jalur Mandiri Part#1 pun dimulai. Bersama Reza, Dika, Vina, Elis, Abi, Bimo, Noer, Khudil, Sarah, Qori, Dimas dan teman yang lainnya menjadikan suasana kebersamaan kami hidup kembali. 3 hari sudah kami mengikuti tes ujian masuk UIN Jakarta. H2C (Harap-harap Cemas) yang kami rasakan saat itu. Kini kami hanya tinggal menunggu hasil tes tersebut.

Sambil menunggu hasil tes masuk di UIN Jakarta, tanpa sepengetahuan teman-teman saya juga ikut tes masuk kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Karena memang kuliah di Yogyakarta merupakan impian saya sejak kelas 2 MA. Untungnya saat itu masih dibuka pendaftaran tes masuk kampus UIN Yogyakarta.

Hari pengumuman hasil tes masuk kampus UIN Jakarta pun tiba. Informasi tersebut bisa di akses lewat websitenya Uin Jakarta. Dan Alhamdulillah, saya dan sebagian besar teman saya lulus seleksi. Betapa senangnya Karena bisa berkumpul bersama-sama lagi.
(lihat http://www.docstoc.com/docs/21615611/HASIL-SELEKSI-PENERIMAAN-MAHASISWA-BARU-SPMB-MANDIRI-UIN-SYARIF). Menyusul 2 minggu kemudian hasil tes masuk kampus UIN Yogyakarta pun tiba. Dan puji syukur atas nikmatnya, saya diberi kesempatan pula untuk kuliah disana. (lihat http://www.scribd.com/doc/30816030/mandiri-lulus-09)

Kembali lagi saya dihadapkan dengan 2 pilihan yang sangat sulit saat itu. Memilih kuliah di Jakarta atau di Yogyakarta. Dengan tekad yang bulat dan juga restu dari Orang tua, bismillah saya pun memilih kuliah di Yogyakarta. Kemudian saya berangkat ke Yogyakarta bersama bapak saya untuk mengurus registrasi ulang.

Sepanjang perjalanan kami hiasi dengan canda-tawa. Dan suasana semakin menarik, karena Bapak banyak cerita tentang perjalanan hidupnya dalam perantauan mulai dari perjuangannya di Jakarta sampai ke daerah timur (Maluku). Bapak itu asyik orangnya. Jika saya dan bapak berada dalam suatu perkumpulan, pasti saja tingkat ke kegokilan bapak saya melebihi saya. saya selalu skak mat kalau bergurau bersama beliau. Dan lucunya adalah ketika kami didalam kereta (dalam perjalanan menuju Yogyakarta) saat itu kami tengah bercanda, tiba-tiba orang yang duduk di samping kiri bapak – yang terlihat mendengar perbincangan kami sedari awal – menyapa bapak kemudian bertanya. “hmm..pak, itu temen bapak yaa..” ? ko akur banget keliatannya (sambil mengarahkan pandangannya kearah saya). Sentak kamipun tertawa kecil. Bapak pun langsung menjawabnya “oh bukan, ini anak saya yang pertama, pak .Mau nemenin daftar ulang kulaihnya di Jogja” (sambil memberikan senyum sapa kepada orang yang terlihat heran dengan keakraban kami).

Monumen Tugu Jogja

Tepat pukul 08.00 Wib kami tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Dan ini merupakan pertama kalinya saya menginjakkan kaki dibumi Mataram yang penuh sejarah. Kami pun langsung menuju kampus UIN Yogyakarta. Sesampainya di area kampus, tempat yang pertama kali tuju adalah masjid. Setelah melepas lelah dan MCK, kami menuju tempat registrasi mahasiswa baru. Sesampainya disana, betapa kecewanya saya karena bank yang dijadikan tempat pembayaran registrasi MABA tutup (saat itu hari sabtu), dan akan dibuka kembali pada hari senin. Sedangkan hari selasa, merupakan hari akhir registrasi MABA.

Rasanya tidak mungkin kalau saya bolak-balik dari Jakarta-Yogyakarta kembali, apalagi tinggal sampai 3 hari di Yogyakarta. Karena saat itu kami tidak mempersiapkan uang lebih dari perkiraan sebelumnya. Saya pun langsung menyatakan untuk mundur (tidak kuliah di Yogyakarta) kepada bapak saya. Dan memilih untuk kuliah di UIN Jakarta saja. Dengan tenang, bapak saya pun merespon pernyataan saya. “ini itu belum seberapa, Mas (panggilan Bapak kepada saya). Didepan sana, masih banyak lagi ujian yang lebih berat. Entah apa yang di maksud dengan perkataannya “yang lebih berat”, saat itu saya hanya menganggukkan kepala saja.

Akhirnya bapak memutuskan untuk memilih saya tetap tinggal di Yogyakarta, sedang bapak kembali ke Jakarta pada hari itu pula. Namun sebelum bapak pulang ke jakarta, kami memilih tempat untuk persinggahan sementara saya di Yogya. Kebetulan bapak memiliki teman yang tinggal di Yogya, dan menyarankan saya agar tinggal di PP Wahid Hasyim yang sekarang menjadi tempat tinggal tetap saya. Dan kami pun berpisah.

UIN sukijo

Tanggal 24 Agustus 2009, merupakan pertama kalinya saya mengikuti kegiatan perkuliahan di kampus. Asyik juga ternyata kuliah, namun bahasa jawa yang biasa dipakai dalam berkomunikasi sehari-hari di daerah Yogyakarta membuat interaksi saya sedkit terhambat. Untungnya dikelas saya ada juga yang asalnya dari daerah Banten dan Jawa Barat, jadi nyambung kalau bicara dengan mereka.

PP. Wahid Hasyim Yogyakarta

Tinggal di PP Wahid Hasyim menjadi pilihan saya di Yogya. Karena memang selain tempatnya yang sangat strategis, tinggal disana bisa membantu belajar saya di kampus. dan saya merasa semakin banyak ilmu yang saya pelajari disana ternyata semakin banyak pula pengetahuan yang saya belum ketahui.

Seiring dengan berjalannya sang waktu, tak terasa saat ini saya sudah berada di semester V. Agak sulit untuk saya mendeskripsikan perjalanan hidup di usia saya yang sudah genap 20 tahun ini. Karena di usia emas ini saya mengalami cobaan yang begitu berat buat saya dan juga keluarga saya.

Saat itu saya sedang menikmati liburan UAS yang baru 5 hari dirumah. Tepatnya pada hari jumat, 15 Juli 2011. Bapak yang selama ini selalu berusaha membahagiakan saya dan menuntun saya dalam meniti kehidupan, kini telah beristirahat dengan tenang.

Benar-benar seperti mimpi, begitu cepat bapak meninggalkan kami sekeluarga di usianya yang ke-46 tahun. Meskipun kami mencintai beliau tapi masih ada yang lebih mencintainya. Dan setelah kepergian almarhum bapak, saya terbayang-banyang dengan ucapan beliau saat kami sedang melakukan registrasi ulang di kampus UIN Yogyakarta. Dan mungkin peristiwa inilah maksud dari perkataan almarhum “ujian yang lebih berat”.

Setelah bermusyawarah dengan sanak keluarga, akhirnya saya pun tetap meneruskan kuliah saya di Yogyakarta. Melanjutkan cita-cita almarhum bapak adalah tugas saya. terimakasih bapak, 20 tahun sudah engkau memberikan segalanya yang abda inginkan. Maafkan abda, jikalau kasihmu sampai saat ini pun belum terbalaskan.

Perjuangan hidup saya pun masih berlanjut, kepergian almarhum bapak tidak membuat saya lemah. Hanya saja saya merasakan kerinduan yang teramat dalam. Kini hanya Ibu dan 2 adik yang saya miliki. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Amien.

Surataan Takdirku

Duhai Ayahku dimana kau kini hatiku merindu
ku harap kasihmu segera kan datang obati rinduku…

Duhai Tuhanku curahkan rahmat-MU kepada ayahku, yang tlah lama pergi berjuang disana entah lah rimbanya…

Duhai Sang Bayu sampaikan salamku kepada Ayahku
katakan padanya betapa hatiku rindukan dirinya…

Ayah doakan anakmu tuk tabah menempuh suratan,
kelak bila ku dewasa, ku akan mengikut jejakmu…

By : Ust. Arif Wardhani
*Guru saya di DNC.

Diskusi

Satu respons untuk “Profil Ane

  1. salut nih sama blog agan, banyak informasinya. lanjutkan terus ya gan? hotel murah di jogja

    Posted by hotelmurahdijogja | 2 September 2015, 9:10 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Ocean Park, BSD Tangerang

a Trip to Pindul Cave & Oyo River

Air Terjun Sri Gethuk, Yogyakarta

Air Terjun Grojogan Sewu, Solo

Pantai Parangtritis Yogyakarta

Kebun Buah Mangunan Imogiri

Jembatan Gantung Imogiri

My Documentary Video

%d blogger menyukai ini: