//
archives

Makam Rasulullah

This tag is associated with 1 post

Perjalanan Ibadah di Tanah Suci

Umroh - Madinah, Makkah (9)

Menuju Raudoh | Pukul 01.30 a.m.  

Bismillahirrahmanirrahim,
Hamdan wa syukron lillah. Menjelang akhir malam Ramadhan saya bisa memulai tulisan ini. Sudah lama sekali saya mendambakan momen ini – menceritakan perjalanan maha indah di Tanah Suci – bahkan saat perjalanan kembali ke tanah air. Kenangan ini terus mengiang di alam fikiran, namun saya belum bisa menulisnya karena ada banyak rasa sedih yang berkecamuk dalam sanubari saat itu. Bagaimana tidak, saya harus betul-betul rela meninggalkan dua Kota Suci dimana semua kaum muslimin mendamba wajahnya disana. Ya Rabb, pertemukan hamba kembali dengan tanah Haramain.

kepergian saya ke Tanah Suci bukanlah hal instan. Bukan hanya soal ada rizqi, waktu dan tenaga. Meski terbilang cukup muda bahkan belum menikah (pada saat itu), tapi mimpi/keinginan tersebut sudah saya targetkan saat masih duduk dikelas akhir MA. Niat yang begitu kuat, membuat keinginan dapat diraih dengan baik. Jika mengingat perjuangannya, masyaallah, pahit memang, namun begitu manis balasan Tuhan. Ahla minal ‘asali.

Mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Kemudian dilanjutkan menuju Kota Madinah. Setelah cek in hotel, saya bersama rombongan jama’ah menuju ke Makam Rasulullah, Baqi dan memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Alhamdulillah, saat itu saya bisa merasakan shalat jumat di Masjid Nabawi.

Hanya 2-3 hari saja di Madinah, waktu yang begitu singkat untuk mencurahkan rindu yang selama ini menggebu pada Rasulullah. Jika selama ini saya hanya bisa membaca dan mendengar kisah beliau serta bershalawat kepadanya, tapi kali ini saya betul-betul datang keharibaannya. Ya Nabi salam ‘alaika, ya Rasul salam ‘alaika, ya Habib salam ‘alaika, sholawatullah ‘alaika. Allahumma sholli ala Muhammad.

Jarak antara hotel dan Masjid Nabawi tidak begitu jauh, saya begitu gagah bersemangat menuju masjid, begitu pula lanjut ke Raudoh dan Makam Rasulullah. Namun baru sampai pelataran masjid langkah kaki saya mulai melamban, lemah tak bertenaga, seperti tak menapak. Batin dan fikiran saya tak seirama. Entah dari mana rasa itu datang, lebih jelasnya saya malu, merasa tidak pantas dan penuh dosa. Saat ini saya sedang menginjak tanah yang didalamnya terdapat jasad manusia mulia berakhlak sempurna. Ya Rabb, selama ini hamba mengaku-ngaku sebagai umatnya, mengharap syafaatnya di yaumil akhir nanti. Tapi apa yang selama ini sudah saya lakukan ?, ibadah dan perangai saya masih jauh dari kata baik, bahkan ajaran sunnah beliau dalam adab minum dengan duduk saja kadang masih saya langgar.

Masih melekat dalam ingatan saya, saat di pondok dulu, ada salah satu guru saya bercerita tentang kisah Imam Malik bin Anas saat masuk Kota Madinah. Beliau melepas sendalnya, lalu kemudian para murid dan pengikutnya pun bertanya, “Wahai Imam, apakah yang membuatmu melepas sandal ketika memasuki kota Madinah al-Munawwarah?”, Kepada para penanya, beliau menyampaikan jawaban yang amat santun, “Bagaimana mungkin aku mengenakan sandal saat menjejakkan kaki di bumi yang di dalamnya bersemayam jasad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?”.

Umroh - Madinah, Makkah (13)

Pintu Masjid Nabawi No. 17-18

jika seorang Ulama sekaliber Imam Malik saja menunjukkan akhlak yang begitu menawan, melepas sandalnya sebagai bentuk rasa ta’zim berkelas, apalagi saya yang hanya seorang muslim yang mengaku-ngaku sebagai umatnya ?. Ya Rasulullah, terimalah kehadiranku di tanahmu. Jadikanlah aku termasuk umatmu yang kau rindukan.

Saya semakin lemah, dibuat malu dengan prilaku-prilaku yang tidak baik. Lalu saya berjalan mengambil barisan jamaah paling belakang, saya coba menahan air mata ini. Sampai tepat di depan pintu masjid nabawi no. 17. Hatiku berdesir, kali ini air mataku jatuh, tidak kuasa menahan. Kami berdoa. lalu kami masuk kedalam. Sesekali saya melihat keindahan interior masjid sambil bersholawat, tapi saya lebih banyak menunduk. Apalagi saat pemimpin rombongan memberikan petunjuk letak dimana Raudoh dan Makam Rasulullah, diri ini begitu malu sekali. Dan kami pun memperbanyak akifitas ibadah didalam masjid.

Dua malam di madinah, ini kesempatan saya bisa memperbanyak ibadah dan doa di Raudoh dan Makam Rasulullah. Untuk dapat ibadah di Raudoh dengan maksimal, saya mesti mencari waktu yang tepat, karena kita tahu Raudoh tidak pernah sepi dari jamaah yang datang, selalu penuh dan padat. Berangkat dari hotel sekitar pukul 01.30 pagi waktu setempat. Saat itu puncaknya musim dingin. Dari obrolan dengan jamaah lain yang sudah lebih dulu datang ke Makkah, suhu di Madinah lebih dingin dibanding Makkah. Ya, benar-benar dingin, bahkan setiap keluar hotel, saya selalu menggunakan jas dipadu sorban dan juga kaos kaki. Meski begitu, ini kesempatan berharga bagi saya untuk memaksimalkan ibadah dan doa yang selama ini rutin dilakukan. Saya akan manfaatkan dengan baik momen ini. Ya Rabb, terimalah ibadah dan doa hamba di Raudoh dan Makam RasulMu.

Umroh - Madinah, Makkah (17)

Jabal Uhud

Selain ziarah ke Makam Rasul dan Baqi, saya juga berkunjung ke beberapa tempat yang ada di Kota Madinah, diantaranya Jabal Uhud, Kebun Kurma, Masjid Qiblatain, Masjid Khamsah dll.

Baca lebih lanjut

Top Posts & Halaman

Ocean Park, BSD Tangerang

a Trip to Pindul Cave & Oyo River

Air Terjun Sri Gethuk, Yogyakarta

Air Terjun Grojogan Sewu, Solo

Pantai Parangtritis Yogyakarta

Kebun Buah Mangunan Imogiri

Jembatan Gantung Imogiri

My Documentary Video